Titik Nadir

Datang kembali malam ini seperti waktu-waktu yang lalu
Yang mungkin telah berlalu untuk sekian putaran waktu
Jiwa yang tak terkendali seolah lumpuh ingin mengadu
Sesaat aku sadar ini adalah nafsu binatang yang mengharu
Buncahan amarah merendahkan derajat
Aku …
Titik air mataku adalah mutiara meski bagi mereka hanya sekedar air mata
Terlihat mengeluh tapi bukan mengeluh melainkan hanya berkisah
Penggambaran tentang aku sebaiknya kutunda hingga akhir waktu
Sampai tiba saatnya kesadaranku kembali bersama jiwa-jiwa bahagia
Bagaimana aku dengan tanpa kesadaran melukiskan dirimu yang tiada tolak bandingannya
Selayaknya menabur kemunafikan menjadikan aku seorang pembual
Kepandaianku tumpul dan aku lupa bagaimana cara memuji
Bagaimana mungkin kamu percaya pada ruh yang hilang dari raganya
Kamu …
Angkatlah selubung dan bicaralah terus terang !
Minta, Mintalah secara wajar !
Jangan kau minta sehelai jerami untuk menyangga gunung
Sekelebat bayang tentang aku tak akan membisukan bibirmu dari kejujuran
Hingga sampai di titik nadir aku menunggu
Itu bukan untuk kamu atau diriku
Untuk Tuhan yang menghembuskan nafas dalam hati yang sempat mati

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s