Antara Bego dan Ego …

Bego dan ego itu adalah penghalang kesuksesan kita. Jika kita bertindak bego maka ego kita akan naik untuk menutupi kebegoan itu. Jika kita bertindak dengan mendahulukan ego maka sikap bego yang akan keluar dari diri kita.

Untuk bisa mencapai kesuksesan maka kita harus bisa meminimalisir keduanya. Malah kalau bisa kita hilangkan sifat itu. Kita telah dianugerahkan akal dan pikiran oleh Tuhan untuk cermat dalam bersikap. Tuhan juga menciptakan sikap bego dan ego yang tinggi sebagai ujian seberapa besar kita bisa mngendalikan itu.

Sebuah kisah nyata terjadi dalam hidup saya ketika saya mendahulukan ego saya sehingga saya bersikap layaknya orang yang bego.

Bermula dari sikap tidak mau mengalah saya sehingga apa yang saya ucapkan kadang menjadi bumerang dalam langkah saya. Kadang saya bersikap mendahulukan ego saya sehingga banyak hal gagal yang saya dapati. Salah satu dari ego yang tinggi adalah ketika kita enggan untuk bertanya padahal kita benar-benar tidak bisa akan hal itu. Sehingga langkah yang kita ambil benar-benar menunjukan betapa begonya kita.

Jika dikaitkan dengan hawa nafsu maka sang ego akan tertawa karena bisa mengendalikan kita dan menguasai diri kita dengan keegoan kita. Padahal jika kita bisa menurunkan atau mngesampingkan ego kita maka kita membuat sang ego malu karena kita masih bisa berfikir logis demi kebaikan kita sendiri.

Kenapa banyak orang menjadi bego?

Banyak orang terjebak dalam egonya sehingga dirinya bersikap layaknya orang bego. Mungkin keangkuhan bisa membuat ego kita naik. Kita merasa diri kita lebih dari orang lain dan layak mendapatkan sesuatu yang lebih dari yang telah atau akan kita dapatkan sehingga kita menjadi jumawa dan besar kepala. Kita merasa benar dan tidak mau dianggap salah. Padahal belum tentu apa yang kita fikir itu baik akan menjadi baik untuk diri kita.

Tanpa sadar kita telah melakukan sikap egois padahal kita telah bersikap baik terhadap orang lain tapi belum tentu orang itu menerjemahkan sikap baik kita sebagai sebuah kebaikan. Bisa saja itu merupakan siksaan batin bagi orang lain. Hal yang pernah terjadi dalam hubungan saya dengan seseorang. Ketika saya berbuat baik ternyata itu menjadi siksaan batin untuk orang itu. Membuat dia tersiksa untuk berfikir bagaimana membalas kebaikan kita.

Saat ini ada baiknya kita menurunkan ego kita agar kita tidak bersikap seperti orang yang bego. Bersikap sewajarnya, karena kadang sifat egois muncul didalam kebaikan kita yang terlalu berlebihan.

Dalam berbisnispun jangan sampai kita dikuasai ego kita. Turunkan ego kita sedikit untuk mendapatkan sebuah kesuksesan dalam berbisnis. Karena rezeki itu sudah ada yang mengatur, Tuhan pasti tau yang terbaik untuk kita dan Tuhan juga tidak ingin melihat hambaNya dikuasai oleh ego.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s