Purnama

0

Di malam purnama kedua setelah pertemuan terakhir kita aku benar-benar merindukanmu
Setelah aku sempat berpura-pura diam
Aku duga mampu untuk menyelami sepi kembali
Sebenarnya tidak …
Di malam purnama kedua aku mengikis kerasnya dinding hati
Merasakan kelembutan hati saat mendengar suaramu
Meski hanya terlintas sepatah dua patah kata
Suaramu meredam lelah bahkan amarah
Di malam purnama kedua setelah pertemuan terakhir aku bisa memujimu kembali
Meski hanya rangkaian kata sederhana

Meredam Lelah

0

“dan ku harapkan kekasih tak perlu bertengkar lagi tak perlu menangis lagi biarkan kita mengalir sampai nanti”

Isi cerita malam beberapa pekan ini seperti mengurai senyum terdalam yang sempat menghilang. Ku parkirkan sepeda motorku seakan lelah menghujam bertubi-tubi menusuk penatku. Entah kenapa lelah serasa betah hinggap ragaku. Hingga di pertengahan waktu menjelang dini hari sosok itu mengangkat lelahku entah dengan guyonannya atau keluhannya yang seakan memijat lembut pundakku. Terkadang celoteh suaranya dibalik telepon seakan membius seluruh lelah. Sosok itu meredam lelahku hanya dengan ceritanya. Meski kini saat keangkuhan merajai sudut benakku aku masih merindukan cara dia meredam lelah saat malam menyapa.

Titik Nadir

0

Datang kembali malam ini seperti waktu-waktu yang lalu
Yang mungkin telah berlalu untuk sekian putaran waktu
Jiwa yang tak terkendali seolah lumpuh ingin mengadu
Sesaat aku sadar ini adalah nafsu binatang yang mengharu
Buncahan amarah merendahkan derajat
Aku …
Titik air mataku adalah mutiara meski bagi mereka hanya sekedar air mata
Terlihat mengeluh tapi bukan mengeluh melainkan hanya berkisah
Penggambaran tentang aku sebaiknya kutunda hingga akhir waktu
Sampai tiba saatnya kesadaranku kembali bersama jiwa-jiwa bahagia
Bagaimana aku dengan tanpa kesadaran melukiskan dirimu yang tiada tolak bandingannya
Selayaknya menabur kemunafikan menjadikan aku seorang pembual
Kepandaianku tumpul dan aku lupa bagaimana cara memuji
Bagaimana mungkin kamu percaya pada ruh yang hilang dari raganya
Kamu …
Angkatlah selubung dan bicaralah terus terang !
Minta, Mintalah secara wajar !
Jangan kau minta sehelai jerami untuk menyangga gunung
Sekelebat bayang tentang aku tak akan membisukan bibirmu dari kejujuran
Hingga sampai di titik nadir aku menunggu
Itu bukan untuk kamu atau diriku
Untuk Tuhan yang menghembuskan nafas dalam hati yang sempat mati

Diatas Aku

0

“Aku bukan Malaikat bahkan bukan seseorang yang hidup tanpa kesalahan dan menyembah kemunafikan agar selalu terlihat BAIK”

Pagi kini selalu hadir berbalut hujan mencoba membasahi fikiran hati yang tandus yang membuat logika berjalan di luar nalar. Musim dingin sudah datang dan kembali mendinginkan hati dan fikiran yang beku. Aku masih berdiri menentang dunia meretas jarak dan waktu. Masih tetap sama terlihat gontai melangkah lalu terjatuh. Dia melangkah tegak berlari kecil menunjuk ke arahku entah apa isi fikirannya. Datang berbalut raut wajah penuh tanya kenapa aku. Kemudian ujung bibirnya menyeringai mungkin mencoba tersenyum bahkan melepas tawa semua sebatas prasangka. Lalu dia pergi melangkah berbalik arah meninggalkan uluran tanganku yang tegak tak diraih. Terhenti langkahnya tetap menatap dibalik arah diatas aku. Menghampiri menyeret tanganku berlari diatas hamparan tubuhku. Kuterima tanpa berdaya. Ini aku itu aku dan aku adalah aku meski kau berada diatasku aku tak peduli tak pernah sungguh membenci.

Lupa Tentang Kita

0

“Sebuah awal akan berujung pada sebuah akhir dan pertemuan akan berakhir pada perpisahan”

Mengenal tentang waktu tak membuat waktu tersedia tak berbatas. Mengenal tentang jarak hanya menjadikan segalanya tak berbatas dalam ruang. Pecahan dan serpihan kegemilangan yang pernah tersusun dalam puzzle. Aku menanti senja berlalu untuk bertemu malam mencoba mengingat tentang sesuatu yang aku tak tahu entah dimana sekarang bahkan tak mampu mengingat kembali tentang apa yang berlalu setiap malam. Apakah ini mencoba lupa atau aku lupa tentang kita? Aku tau tentang kisah kita tapi aku lupa siapa kita. Apa arti kita di hadapan dunia.

“Tentang kisah sahabat yang mencari ujung dari kisah yang terlupa. Lupa siapa kita di hadapan dunia. Hidup diantara kepura-puraan”

20121114-210258.jpg

Pada Dunia

0

Entah apa yang terjadi pada pagi akhir-akhir ini. Terlihat gelap dan terasa dingin menusuk. Sebelumnya tidak pernah kulihat pagi seperti ini. Hanya udara lembab cenderung panas yang membuat aku ingin segera lepas dari selimut. Tapi akhir-akhir ini jangankan melepas selimut bahkan kutarik penuh selimut hingga menutupi wajahku. Ah, mungkin hanya sebanding dengan apa yang kurasakan pada dunia, terasa dingin teracuhkan terselip rasa kesal. Aku tak sanggup bercerita pada dunia tentang gejala apa di hatiku hanya menyimpan sendiri hingga aku merindukan sepi. Mungkin aku terbiasa sendiri mungkin aku terbiasa menjadi yang terasingkan. Saat aku mencoba melihat realita dunia aku tak bisa memberikan apapun pada dunia hanya selalu berteriak mengeluh tak bersuara. Mereka tertawa terlihat bahagia dan aku mencoba mengikuti alur mereka tapi pada dunia aku tak bisa berbohong tentang kebenaran yang kusimpan sendiri. Tak seperti mereka karena aku bukan mereka yang dengan lepas bercerita pada dunia dan menebar isi asa dan rasa.

20121114-161746.jpg

Menuai Benih

0

“Izinkan saya untuk tersenyum bahkan tertawa diatas situasi derita kalian”

Masih basah dalam fikiran atas kata terucap meredam amarah kemarin. Tentang apa yang kamu akan tuai adalah atas hasil usahamu. Dan hari ini dengan mata kepalaku aku melihat seseorang bahkan mungkin sekelompok orang menuai hasil atas usaha kerasnya selama ini. Ya usah keras mereka mengabaikan dan tak merasa menganggap hasil karya tetesan peluh bahkan pengorbanan lika dalam organ untuk memberikan sesuatu. Mereka menutup mata dan telinga merasa seolah2 mereka adalah kaum yg benar yg harus selalu menjadi tunduk di hadapan mereka. Bungkam atas semua bisikan kritik yang harusnya mereka terima dengan jiwa besar karena mereka menganggap mereka besar dan aku nampak tak terlihat.
Hingga suatu peristiwa yang harusnya mampu menyadarkan tentang apa benih yg mereka tuai masih belum mampu menggugah pola fikir otak membatu. Mereka sembunyikan panik dibalik otak membatu mereka tapi aku bisa merasa dan melihatnya. Maafkan aku harus tertawa puas karena aku tak sanggup menahan tawaku untuk kebodohan kalian yang masih otak batu.

20121109-181404.jpg